
Invalid Date
Dilihat 79 kali

KABUPATEN SEMARANG – Rantai pasok sayuran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuntut standar kesegaran ekstra tinggi. Di kaki gunung Desa Batur, tepatnya di Dusun Kaliduren, CV Rajawali Mutiara Arta tengah berpacu dengan waktu guna memastikan produk hortikultura mereka tidak cepat layu sebelum sampai ke dapur-dapur pengolahan. Mengandalkan alat ozonisasi dari Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, usaha milik Sugiono ini menjadi pionir teknologi pascapanen di wilayahnya.
Sayangnya, kecanggihan alat tersebut belum dibarengi dengan manajemen operasional yang mumpuni. Persoalan klasik UMKM mulai dari alur kerja yang semrawut, absennya kendali mutu (quality control), hingga nihilnya sertifikasi halal menjadi batu sandungan bagi Sugiono untuk menembus pasar yang lebih profesional. Kondisi inilah yang memicu tim KKN Tematik Undip untuk turun tangan melakukan standarisasi total melalui program "Ozon Aman, Sayur Tahan Lama".
Kunto Bismo Pamungkas, Fikri Wijaya, V. Jovian Luxioctafiano, bersama timnya tak sekadar datang membawa teori. Mereka merombak total skema kerja di gudang Sugiono dengan menerapkan one-way flow diagram. Tujuannya jelas: memisahkan dengan tegas sayur yang layak konsumsi dan yang tidak, serta memastikan setiap pesanan memiliki alur distribusi yang terlacak. Langkah ini krusial untuk menjaga efektivitas teknologi ozon yang diklaim mampu memperpanjang umur simpan sayur hingga satu minggu di luar lemari pendingin.
Urusan legalitas dan kepercayaan konsumen pun tak luput dari sasaran. Tim mahasiswa menyusun dokumen standarisasi yang mencakup prosedur K3 hingga draf pengajuan sertifikat halal. Bagaimanapun, identitas halal bukan sekadar label, melainkan instrumen vital untuk membangun kepercayaan di mata penyedia jasa boga program MBG. Untuk urusan pasar, mereka mengalihkan pola komunikasi konvensional ke platform WhatsApp Business agar katalog produk dan transaksi tercatat secara profesional.
Upaya modernisasi ini disambut baik oleh pengelola lapangan. Andri, yang sehari-hari menangani mesin ozon, mengakui bahwa campur tangan mahasiswa memberikan napas baru bagi operasional usaha mereka. Baginya, pendampingan ini menutup celah kekurangan mereka selama ini, terutama dalam hal administrasi dan pemasaran digital yang sebelumnya terabaikan.
Keberhasilan kolaborasi ini nyatanya berakar dari
kedekatan emosional. Alih-alih memosisikan diri sebagai "ahli" dari
kota, para mahasiswa memilih "sowan" ke rumah-rumah warga dan turun
langsung ke pematang sawah. Pendekatan humanis inilah yang mencairkan kekakuan,
membuat transfer teknologi dan ilmu manajemen menjadi lebih organik. Sinergi di
Desa Batur ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi riset kampus dan kebutuhan
desa bisa menjadi kunci ketahanan pangan, sekaligus memastikan program
strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis mendapatkan pasokan bahan baku
terbaik.
Manifestasi
dari kedekatan emosional tersebut terlihat jelas di lapangan. Mahasiswa KKN Tim
21 Universitas Diponegoro tidak hanya berfokus pada program formal, tetapi juga
membaur melalui kegiatan "sowan" ke rumah-rumah pengurus RT dan RW.
Di sana, mereka
Bagikan:

Desa Batur
Kecamatan Getasan
Kabupaten Semarang
Provinsi Jawa Tengah
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini